Para personil Blink 182 memang nggak pernah untuk melupakan masa-masa jaya mereka di masa lalu. Begitu juga dengan persiapan album baru yang kini tengah mereka kerjakan. Setelah beragam pengalaman yang mereka jalani sendiri sejak mereka sempat berpisah di tahun 2005 lalu. Sebut saja dengan memulai band baru, acara televisi hingga kecelakaan pesawat. Beragam pengalaman tersebut ternyata mereka rangkum dan tersemat dalam album baru nanti.
“Saya hanya ingin memastikan jika kami tidak melupakan segala kecemasan itu. Saya ingin menyampaikannya melalui sebuah paket yang modern. Menggunakan instrumen dan sebuah formula untuk membawa pendengar ke nuansa yang berbeda lewat lebih dari tiga kort pop punk beserta reff-nya. Yang kami lakukan sekarang hanyalah mengambil esensi dari Blink 182 sendiri dan membuatnya menjadi sesuatu. Itulah yang membuat saya bergairah,” papar Tom DeLonge sang gitaris merangkap vokalis. 
Album terbaru Blink 182 direncanakan akan terisi 10 – 12 lagu. Di lain itu trio ini juga berencana untuk menggelar tur dunia dan beragam festival yang mereka mulai di musim panas ini. Wah semoga saja mampir ke Indonesia ya.

Para personil Blink 182 memang nggak pernah untuk melupakan masa-masa jaya mereka di masa lalu. Begitu juga dengan persiapan album baru yang kini tengah mereka kerjakan. Setelah beragam pengalaman yang mereka jalani sendiri sejak mereka sempat berpisah di tahun 2005 lalu. Sebut saja dengan memulai band baru, acara televisi hingga kecelakaan pesawat. Beragam pengalaman tersebut ternyata mereka rangkum dan tersemat dalam album baru nanti.
“Saya hanya ingin memastikan jika kami tidak melupakan segala kecemasan itu. Saya ingin menyampaikannya melalui sebuah paket yang modern. Menggunakan instrumen dan sebuah formula untuk membawa pendengar ke nuansa yang berbeda lewat lebih dari tiga kort pop punk beserta reff-nya. Yang kami lakukan sekarang hanyalah mengambil esensi dari Blink 182 sendiri dan membuatnya menjadi sesuatu. Itulah yang membuat saya bergairah,” papar Tom DeLonge sang gitaris merangkap vokalis.

Album terbaru Blink 182 direncanakan akan terisi 10 – 12 lagu. Di lain itu trio ini juga berencana untuk menggelar tur dunia dan beragam festival yang mereka mulai di musim panas ini. Wah semoga saja mampir ke Indonesia ya.

All Time Low akhirnya memberikan bocoran cover album terbaru mereka, Dirty Works. Album tersebut adalah album studio kelanjutan dari Nothing Personal yang mereka rilis di tahun 2009 lalu. Sebelum keluar secara resmi, album ini akan lebih dulu diwarnai dengan peluncuran single mereka I Feel Like Dancin di iTunes pada tanggal 5 April 2011 mendatang.

All Time Low akhirnya memberikan bocoran cover album terbaru mereka, Dirty Works. Album tersebut adalah album studio kelanjutan dari Nothing Personal yang mereka rilis di tahun 2009 lalu. Sebelum keluar secara resmi, album ini akan lebih dulu diwarnai dengan peluncuran single mereka I Feel Like Dancin di iTunes pada tanggal 5 April 2011 mendatang.

Melalui sebuah wawancara bersama Details Magazine, sekali lagi Patrick Stump menegaskan atas pertanyaan yang menghubungkannya dengan perselisihan dalam tubuh Fall Out Boy. Perselisihan antara dirinya dengan sang bassis, Pete Wentz disinyalir menjadi momok bagi vakumnya kuartet tersebut. Walaupun Stump mengakui sempat ada perbedaan pendapat di antara mereka, tetapi ia yakin jika hubungannya dengan Wentz berlangsung dengan baik.
“Fall Out Boy baik-baik saja. Begitu juga dengan hubungan antar personilnya. Setiap musisi pasti mempunyai ego masing-masing dan berbeda. Kami pun mengalaminya, tetapi kini kami baik-baik saja,” paparnya tegas.
Perpecahan dalam tubuh Fall Out Boy juga menjurus kepadamantan istri Pete Wentz, Ashlee Simpson. Adik dari Jessica Simpson tersebut menjadi sosok yang disalahkan seperti halnya Yoko Ono yang dituduh memunculkan konflik dalam tubuh The Beatles.
“Tidak benar. Sepertinya terlalu jauh jika dihubungan dengan Ashlee. Begitu juga jika dirinya disamakan dengan Yoko Ono. Apalagi jika Fall Out Boy disandingkan dengan The Beatles. Saya rasa tidak pantas,” tambahnya lagi.

Melalui sebuah wawancara bersama Details Magazine, sekali lagi Patrick Stump menegaskan atas pertanyaan yang menghubungkannya dengan perselisihan dalam tubuh Fall Out Boy. Perselisihan antara dirinya dengan sang bassis, Pete Wentz disinyalir menjadi momok bagi vakumnya kuartet tersebut. Walaupun Stump mengakui sempat ada perbedaan pendapat di antara mereka, tetapi ia yakin jika hubungannya dengan Wentz berlangsung dengan baik.
“Fall Out Boy baik-baik saja. Begitu juga dengan hubungan antar personilnya. Setiap musisi pasti mempunyai ego masing-masing dan berbeda. Kami pun mengalaminya, tetapi kini kami baik-baik saja,” paparnya tegas.
Perpecahan dalam tubuh Fall Out Boy juga menjurus kepadamantan istri Pete Wentz, Ashlee Simpson. Adik dari Jessica Simpson tersebut menjadi sosok yang disalahkan seperti halnya Yoko Ono yang dituduh memunculkan konflik dalam tubuh The Beatles.
“Tidak benar. Sepertinya terlalu jauh jika dihubungan dengan Ashlee. Begitu juga jika dirinya disamakan dengan Yoko Ono. Apalagi jika Fall Out Boy disandingkan dengan The Beatles. Saya rasa tidak pantas,” tambahnya lagi.

Kilas Balik Flight 666
Oleh : Oleh Deepti Unni

Foto : EMI

Pada 31 Januari 2008, sebuah pesawat Boeing 757 dengan nomor penerbangan 666 memohon izin untuk mendarat di bandara Mumbai. Tapi ini bukan pesawat biasa, baik dari segi nomor penerbangannya yang tidak lazim, gambar iblis yang terlukis di ekor maupun namanya, Ed Force One. Pesawat ini telah dimodifikasi untuk mengangkut peralatan 12 ton dan 70 anggota kru. Tapi penumpang kehormatannya adalah Iron Maiden – yang sedang menjalani tur mereka yang paling ambisius sejauh ini, di mana mereka menempuh lebih dari 64,000 km untuk mendatangi 21 kota dalam 46 hari – dan pilotnya adalah vokalis Bruce Dickinson. Inilah kisah mereka.

Setidaknya kisah itulah yang disampaikan oleh sineas Sam Dunn dan Scot McFayden dari Banger Productions pada film dokumenter mereka yang ketiga, Iron Maiden: Flight 666, setelah sebelumnya mengkaji sejarah dan pengaruh metal pada Metal: A Headbanger’s Journey (2005) dan Global Metal (2008). Bagi yang kurang tahu tentang film-film itu, Sam Dunn – seorang antropolog dan penggemar heavy metal – memutuskan untuk menggali lebih dalam mengenai aliran musik kesukaannya agar dapat lebih  memahami metal. Dia berkolaborasi dengan Scot McFayden – mantan produser soundtrack sejumlah film dan proyek televisi – untuk melacak berbagai aspek budaya heavy metal di seluruh dunia dan berbicara dengan beraneka ragam artis, termasuk Alice Cooper, Tom Morello dari Rage Against the Machine, Angela Gossow dari Arch Enemy dan Alex Webster dari Cannibal Corpse. Metal: A Headbanger’s Journey memberi pencerahan mengenai kesalahpahaman seputar musik metal serta mengungkapkan beberapa aspek yang sulit dipahami bahkan oleh para sineas itu, seperti kancah black metal di Norwegia yang penuh masalah. Menyusul kesuksesan film pertama itu, duo tersebut membuat Global Metal, sebuah dokumenter tentang bagaimana budaya-budaya di seluruh dunia menyerap dan mengubah metal dengan menjelajahi kancah-kancah metal bawah tanah di tempat-tempat tak terduga di dunia, termasuk India.

Selama pembuatan kedua film ini, Dunn dan McFayden sempat kontak dengan Iron Maiden, merekam konser mereka di Bengaluru pada Maret 2007 untuk dokumenter kedua, serta mengajukan proposal tentatif untuk membuat dokumenter tentang Maiden dalam waktu mendatang. Ketika Dunn membaca rilisan pers untuk tur dunia Somewhere Back in Time serta jadwalnya, dia tahu bahwa itu akan menjadi kesempatan sempurna untuk merekam band itu dan mengajukan idenya lagi. Rod Smallwood, manajer Maiden, terkesan oleh Metal: A Headbanger’s Journey, namun kurang yakin apakah idenya untuk  Maiden dapat dilaksanakan. “Rod merasa itu akan terlalu sulit – tur itu sendiri sudah begitu sulit – dan band itu takkan mau jika dikelilingi kamera. Kami mengira itu tak akan terwujud, tapi akhirnya dia setuju,” kata Dunn.

Tur dunia Somewhere Back in Time adalah tur terbesar Iron Maiden, di mana mereka tampil di depan 2,5 juta penggemar dalam enam pekan. Tur ini dimungkinkan karena band itu memiliki pesawat sendiri serta seorang pilot dalam diri Dickinson. Namun perjalanan itu melelahkan karena band itu main hampir tiap dua hari sambil terbang 3.000 km antara kota-kota di Asia, Amerika Utara dan Selatan, serta Eropa. Tur ini dimaksud sebagai kilas balik seputar era keemasan band itu, sebuah aksi unjuk kekuatan untuk membuktikan bahwa kejayaan mereka belum pudar setelah kariernya berusia 30 tahun. Flight 666 mendokumentasikan tur ini, sebuah kesempatan sekali seumur hidup yang segera disambut oleh para sineas itu. Maiden terkenal karena enggak disorot kamera dan sangat menjaga privasi, jadi tak mudah bagi sineas itu untuk meraih kepercayaannya. Dickinson dan drummer Nicko McBrain merasa nyaman di depan kamera dan tak perlu banyak bujukan, tapi sisa personel band tetap was-was. “Yang lain sedikit lebih malu dan tertutup, serta tak biasa diikuti kamera, jadi butuh waktu untuk memperoleh kepercayaan mereka. Dick Bell, tour manager legendaris Maiden, berkata kepada kami, ‘Kalau kalian tidak memaksa, semuanya akan berhasil,’ jadi kami mengikuti nasihatnya dan itu manjur bagi kami,” kata Dunn sambil senyum. Scot menambahkan, “Nicko selalu terbuka, Bruce terbuka, Adrian [Smith, gitaris] sangat pemalu, Janick [Gers, gitaris] tak begitu menginginkan kehadiran kami. Tiap kali kami menyalakan kamera, dia pergi. Adrian dan Dave [Murray, gitarus] perlahan-lahan terbuka, tapi itu butuh waktu lama. Satu hal yang membantu adalah keramahan istri Adrian dan Bruce kepada kami. Mereka memahami apa yang kami berusaha lakukan dan mencoba membujuk orang-orang itu untuk membuka diri kepada kami.”

Saat menjelaskan proses perfilman dan logistik yang dibutuhkan, McFayden berkata, “Ada saya dan Sam, tiga juru kamera, seorang juru sound dan seorang line producer. Kami merekam footage sebanyak 500 jam dalam tujuh pekan – kami tak pernah mematikan kameranya. Setelah itu, proses edit butuh hampir satu tahun – tiga editor memilah-milah rekaman sebanyak 500 jam. Itu butuh real time untuk memasukkannya ke dalam komputer, jadi kami menghabiskan 50 jam per pekan selama 10 pekan hanya untuk memasukkannya ke dalam komputer dan 50 jam per pekan selama 10 pekan hanya untuk menontonnya, so it was a bit of a beast.”

Mengingat betapa perfeksionisnya Iron Maiden dalam proses produksi DVD konser, ada banyak spekulasi di forum penggemar dan grup diskusi di seluruh dunia mengenai apakah band itu akan mengawasi proses penyuntingan atau mengontrol proses perfilman. Ada sebuah kisah terkenal pada masa lampau, di mana Steve Harris, bassis dan pendiri Iron Maiden, melakukan intervensi untuk benar-benar menyuntung ulang lagu-lagu di DVD Rock In Rio karena merasa para editor tidak melakukan tugasnya dengan baik. Mengingat sejarah ini, Dunn dan McFayden sudah mengantisipasi bahwa band itu akan memberi masukan, tapi mereka terkejut karena intervensinya tergolong minim. Apakah band itu menerapkan penyensoran terhadap para sineas? “Steve Harris punya beberapa komentar, terutama seputar materi konser, untuk beberapa adegan yang kami gunakan, tapi kami terkejut karena band itu tak memiliki lebih banyak kritikan serta perubahan yang diinginkan. Jika Iron Maiden memakai narkoba di belakang panggung dan meniduri groupies, maka mungkin akan ada yang dipermasalahkan. Tapi mereka adalah kelompok yang cukup beradab, jadi tak ada yang perlu disembunyikan.” Penggemar yang mengharapkan adanya pengungkapan seperti di Headbanger’s Journey akan sedikit kecewa – berdasarkan DVD-nya, Iron Maiden adalah orang-orang yang bersih dan profesional di atas panggung maupun di luarnya.

Kilas Balik Flight 666
Oleh : Oleh Deepti Unni

Foto : EMI

Pada 31 Januari 2008, sebuah pesawat Boeing 757 dengan nomor penerbangan 666 memohon izin untuk mendarat di bandara Mumbai. Tapi ini bukan pesawat biasa, baik dari segi nomor penerbangannya yang tidak lazim, gambar iblis yang terlukis di ekor maupun namanya, Ed Force One. Pesawat ini telah dimodifikasi untuk mengangkut peralatan 12 ton dan 70 anggota kru. Tapi penumpang kehormatannya adalah Iron Maiden – yang sedang menjalani tur mereka yang paling ambisius sejauh ini, di mana mereka menempuh lebih dari 64,000 km untuk mendatangi 21 kota dalam 46 hari – dan pilotnya adalah vokalis Bruce Dickinson. Inilah kisah mereka.

Setidaknya kisah itulah yang disampaikan oleh sineas Sam Dunn dan Scot McFayden dari Banger Productions pada film dokumenter mereka yang ketiga, Iron Maiden: Flight 666, setelah sebelumnya mengkaji sejarah dan pengaruh metal pada Metal: A Headbanger’s Journey (2005) dan Global Metal (2008). Bagi yang kurang tahu tentang film-film itu, Sam Dunn – seorang antropolog dan penggemar heavy metal – memutuskan untuk menggali lebih dalam mengenai aliran musik kesukaannya agar dapat lebih memahami metal. Dia berkolaborasi dengan Scot McFayden – mantan produser soundtrack sejumlah film dan proyek televisi – untuk melacak berbagai aspek budaya heavy metal di seluruh dunia dan berbicara dengan beraneka ragam artis, termasuk Alice Cooper, Tom Morello dari Rage Against the Machine, Angela Gossow dari Arch Enemy dan Alex Webster dari Cannibal Corpse. Metal: A Headbanger’s Journey memberi pencerahan mengenai kesalahpahaman seputar musik metal serta mengungkapkan beberapa aspek yang sulit dipahami bahkan oleh para sineas itu, seperti kancah black metal di Norwegia yang penuh masalah. Menyusul kesuksesan film pertama itu, duo tersebut membuat Global Metal, sebuah dokumenter tentang bagaimana budaya-budaya di seluruh dunia menyerap dan mengubah metal dengan menjelajahi kancah-kancah metal bawah tanah di tempat-tempat tak terduga di dunia, termasuk India.

Selama pembuatan kedua film ini, Dunn dan McFayden sempat kontak dengan Iron Maiden, merekam konser mereka di Bengaluru pada Maret 2007 untuk dokumenter kedua, serta mengajukan proposal tentatif untuk membuat dokumenter tentang Maiden dalam waktu mendatang. Ketika Dunn membaca rilisan pers untuk tur dunia Somewhere Back in Time serta jadwalnya, dia tahu bahwa itu akan menjadi kesempatan sempurna untuk merekam band itu dan mengajukan idenya lagi. Rod Smallwood, manajer Maiden, terkesan oleh Metal: A Headbanger’s Journey, namun kurang yakin apakah idenya untuk Maiden dapat dilaksanakan. “Rod merasa itu akan terlalu sulit – tur itu sendiri sudah begitu sulit – dan band itu takkan mau jika dikelilingi kamera. Kami mengira itu tak akan terwujud, tapi akhirnya dia setuju,” kata Dunn.

Tur dunia Somewhere Back in Time adalah tur terbesar Iron Maiden, di mana mereka tampil di depan 2,5 juta penggemar dalam enam pekan. Tur ini dimungkinkan karena band itu memiliki pesawat sendiri serta seorang pilot dalam diri Dickinson. Namun perjalanan itu melelahkan karena band itu main hampir tiap dua hari sambil terbang 3.000 km antara kota-kota di Asia, Amerika Utara dan Selatan, serta Eropa. Tur ini dimaksud sebagai kilas balik seputar era keemasan band itu, sebuah aksi unjuk kekuatan untuk membuktikan bahwa kejayaan mereka belum pudar setelah kariernya berusia 30 tahun. Flight 666 mendokumentasikan tur ini, sebuah kesempatan sekali seumur hidup yang segera disambut oleh para sineas itu. Maiden terkenal karena enggak disorot kamera dan sangat menjaga privasi, jadi tak mudah bagi sineas itu untuk meraih kepercayaannya. Dickinson dan drummer Nicko McBrain merasa nyaman di depan kamera dan tak perlu banyak bujukan, tapi sisa personel band tetap was-was. “Yang lain sedikit lebih malu dan tertutup, serta tak biasa diikuti kamera, jadi butuh waktu untuk memperoleh kepercayaan mereka. Dick Bell, tour manager legendaris Maiden, berkata kepada kami, ‘Kalau kalian tidak memaksa, semuanya akan berhasil,’ jadi kami mengikuti nasihatnya dan itu manjur bagi kami,” kata Dunn sambil senyum. Scot menambahkan, “Nicko selalu terbuka, Bruce terbuka, Adrian [Smith, gitaris] sangat pemalu, Janick [Gers, gitaris] tak begitu menginginkan kehadiran kami. Tiap kali kami menyalakan kamera, dia pergi. Adrian dan Dave [Murray, gitarus] perlahan-lahan terbuka, tapi itu butuh waktu lama. Satu hal yang membantu adalah keramahan istri Adrian dan Bruce kepada kami. Mereka memahami apa yang kami berusaha lakukan dan mencoba membujuk orang-orang itu untuk membuka diri kepada kami.”

Saat menjelaskan proses perfilman dan logistik yang dibutuhkan, McFayden berkata, “Ada saya dan Sam, tiga juru kamera, seorang juru sound dan seorang line producer. Kami merekam footage sebanyak 500 jam dalam tujuh pekan – kami tak pernah mematikan kameranya. Setelah itu, proses edit butuh hampir satu tahun – tiga editor memilah-milah rekaman sebanyak 500 jam. Itu butuh real time untuk memasukkannya ke dalam komputer, jadi kami menghabiskan 50 jam per pekan selama 10 pekan hanya untuk memasukkannya ke dalam komputer dan 50 jam per pekan selama 10 pekan hanya untuk menontonnya, so it was a bit of a beast.”

Mengingat betapa perfeksionisnya Iron Maiden dalam proses produksi DVD konser, ada banyak spekulasi di forum penggemar dan grup diskusi di seluruh dunia mengenai apakah band itu akan mengawasi proses penyuntingan atau mengontrol proses perfilman. Ada sebuah kisah terkenal pada masa lampau, di mana Steve Harris, bassis dan pendiri Iron Maiden, melakukan intervensi untuk benar-benar menyuntung ulang lagu-lagu di DVD Rock In Rio karena merasa para editor tidak melakukan tugasnya dengan baik. Mengingat sejarah ini, Dunn dan McFayden sudah mengantisipasi bahwa band itu akan memberi masukan, tapi mereka terkejut karena intervensinya tergolong minim. Apakah band itu menerapkan penyensoran terhadap para sineas? “Steve Harris punya beberapa komentar, terutama seputar materi konser, untuk beberapa adegan yang kami gunakan, tapi kami terkejut karena band itu tak memiliki lebih banyak kritikan serta perubahan yang diinginkan. Jika Iron Maiden memakai narkoba di belakang panggung dan meniduri groupies, maka mungkin akan ada yang dipermasalahkan. Tapi mereka adalah kelompok yang cukup beradab, jadi tak ada yang perlu disembunyikan.” Penggemar yang mengharapkan adanya pengungkapan seperti di Headbanger’s Journey akan sedikit kecewa – berdasarkan DVD-nya, Iron Maiden adalah orang-orang yang bersih dan profesional di atas panggung maupun di luarnya.

XCLUSIVE: Iron Maiden Lebih Tertarik Konser di Jakarta Daripada Menang Grammy Menyebut acara Grammy Awards itu memalukan karena mereka dipilih bukan oleh penggemar musik rock.

“Saya kembali tidur setelah dengar kabar itu (Iron Maiden menang Grammy),” ujar Bruce Dickinson, vokalis Iron Maiden yang ditemui Rolling Stone dibelakang panggung beberapa jam sebelum mereka menggelar konser di Singapore Indoor Stadium pada Selasa (15/2) malam.

“Cukup senang ada seseorang yang memberi kami Grammy tapi yang lebih penting sebenarnya adalah para penggemar kami, apalagi penghargaan ini diberikan bukan oleh penggemar musik rock, tapi ini dipilih oleh….. saya sendiri tidak tahu siapa yang memilih,” ujarnya.

Iron Maiden pada akhir pekan lalu mendapat Grammy pertama mereka dalam 35 tahun sejak pertama kali terbentuk di London, Inggris. Iron Maiden menerima penghargaan “Best Metal Performance” untuk lagu “El Dorado” dari album terakhir mereka, The Final Frontier.

Dickinson juga menjelaskan bahwa para personel Iron Maiden lainnya merespon kemenangan ini dengan biasa-biasa saja. Bahkan ketika ditanya apakah mereka akan datang langsung ke Staples Center, Los Angeles untuk menerimanya jika tidak sedang tur, ia dengan tegas menolak.

“Tidak. Acara itu memalukan! Grammy Awards itu memalukan. Mereka membagi-bagikan ratusan trofi… kategori ’gitar Hawaiian terbaik’ atau apalah, pokoknya seperti itulah. Sebuah perayaan besar yang lebih mirip antrian tiket parkir saja sebenarnya,” tegas Dickinson.

Dickinson juga bercerita bahwa di dalam kamp Iron Maiden tidak ada pesta khusus atas kemenangan ini. ”No, good God, no!,” jawabnya singkat.

”Tapi kami sangat menikmati malam Ivor Novello Awards dulu. Ini karena Novello Awards adalah penghargaan bagi para pencipta lagu yang diselenggarakan dan dipilih oleh asosiasi pencipta lagu di Inggris. So, that was cool,” jelasnya lagi tentang penghargaan International Achievement yang diterima Iron Maiden di tahun 2000 dulu.

Uniknya, ketika ditanya lebih lanjut tentang rencana konser mereka di Indonesia Dickinson tampak sangat gembira.

“Nah, saya jauh lebih tertarik untuk membahas rencana konser kami di Indonesia itu daripada menang Grammy,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa Iron Maiden akan tampil di Jakarta dan Bali selama dua jam penuh masing-masingnya dan membawakan lagu-lagu yang diambil dari album terakhir mereka, The Final Frontier dan tentunya sederetan hits klasik Iron Maiden yang telah dikenal sejak lama seperti ”Fear of the Dark,” ”The Trooper” hingga ”Number of the Beast.”

Pre Sale Iron Maiden, 3000 Tiket Pre Sale dalam 1 hari Ludes Terjual!

Gembar-gembor konser Iron Maiden di Indonesia (17 Feb 2011 Jakarta dan 20 Feb 2011 Bali) akhirnya terbayarkan sudah dengan dibukanya presale selama satu hari yaitu pada tanggal 14 November 2011 kemarin yang bertempat di VIP Pintu Barat Stadion Utama Gelora Bung karno, Jakarta (tepatnya dibawah patung panah Stadion) itu digelar.

Adapun tiket presale yang dibuka pada hari itu hanya Festival A = Rp. 600.000 sebanyak 1000pcs dan Festival B = Rp. 400.000 sebanyak 2000pcs LUDES terjual WOW!!!. Dan sejak dibuka presale tersebut pada jam 10.00wib sudah banyak gerombolan para metalheads yang sudah mengantri dengan tertib sejak jam 07.00wib, dan alhasil mereka mendapatkan tiket presale dengan harga yang murah, sepertin yang di kutip KASKUS.

Antrian panjang sekitar lebih dari 2 meter ini memang sangat didukung dengan cuaca yang terik itu tidak menyurutkan para metalheads untuk rela menunggu, mulai dari orang tua sampai anak muda dan bahkan ada sebagian anak muda yang belum tahu dengan Iron Maiden pun ikut mengantri dengan sabar.

Barisan antrian yang dibagi dengan 2 bagian dengan 2 pintu dan didukung 2 meja besar (masing-masing dibagi menjadi 3 loket dengan computer untuk meng-input data lengkap beserta Nama, No.Telp, KTP dan jumlah tiket presale yang dipesan) para penjual tiket presale siap melayani para metalheads yang datang pada hari itu.

Dan bagi yang sudah mendapatkan bukti pembelian presale Iron Maiden (dengan ukuran kertas A4) pada tanggal 14 November 2010, lalu bukti tersebut agar ditukarkan dengan tiket asli menjelang konser berlangsung yaitu H-2.

Kedatangan Iron Maiden ke Indonesia tidak lepas dari dukungan para Troopers (sebutan para fans Iron Maiden) yang membuat grup ‘1 JUTA TROOPS dukung ORIGINAL PROD undang IRONMAIDEN ke INDONESIA 2010/11′, adapun kelompok penggemar Iron Maiden sendiri yang tergabung dalam grup tersebut mencapai 13.500 anggota dan saat ini anggota yang aktif mencapai 1.600 orang.

Perlu diketahui juga, bahwa Indonesia Iron Maiden Troopers sudah berdiri sejak 1 April 2009 dan pergerakan mereka dalam grup di Facebook ini mendapat pantauan tersendiri dari management Iron Maiden dan akhirnya mereka pun membantu Original Production untuk mewujudkan konsernya di Indonesia. (rits)

Kirk Hammett Mengaku Penggemar Berat Mendiang Gary Moore

Mengaku beberapa bagian gitar lagu “Master of Puppets” dan “The Unforgiven” terinspirasi eks-gitaris

Simpati terus berdatangan untuk mantan gitaris band, Thin Lizzy, Gary Moore. Ia diperkirakan meninggal pada hari Minggu (6/2) lalu di Hotel Kempinski, Estepona, Spanyol. Kali ini salah satu gitaris metal ternama, Kirk Hammett, memberikan penghormatannya kepada mendiang Robert William Gary Moore kepada Rolling Stone via telepon.

Kirk Hammett mengaku seorang penggemar Thin Lizzy. Ia merasakan ada yang beda di album terbaru Thin Lizzy saat itu, Black Rose. “Saya mendengarkan ‘Waiting For An Alibi’ di radio kampus dan saya sangat terkagum dengan permainan gitar di lagu itu. Saya langsung tahu itu bukan Brian Robertson atau Scott Gorham yang bermain,” ungkap Hammett.
Setelah itu ia mengetahui dari sampul album tersebut bahwa Gary Moore adalah gitaris yang bermain di lagu yang ia dengarkan itu. “Permainannya membuatku sangat kagum dari pertama kali saya mendengarnya,” imbuhnya kepada majalah Rolling Stones.
Hammett juga mengaku bahwa beberapa permainan gitarnya di lagu yang ia mainkan dan ciptakan bersama Metallica juga terinspirasi dari permainan gitar Gary Moore. ”Gary Moore sangat memepengaruhi awal dari solo gitar lagu ‘Master of Puppets’ itu merupakan variasi dari beberapa permainan gitar Gary Moore,” cerita Hammett.
Tidak hanya satu lagu, lagu “The Unforgiven” di album hitam juga mendapat inspirasi dari pemain gitar yang pernah membentuk band G-Force tersebut. ”Saya ingat mendengarkan album blues-nya… Saya ingat terinspirasi dan menulis beberapa rif gitar dari sound dan perasaan permainannya. Dan rif itu menjadi bagian di lagu ‘The Unforgiven’ di album hitam,” kenangnya lagi.

Gitaris Metallica ini baru bertemu dengan almarhum satu setengah tahun lalu di sebuah lift di hotel ketika sedang berada di Jerman. ”Saya tidak percaya, langsung mengenalkan diri saya dan mengatakan bahwa saya adalah penggemar beliau. Saya sedikit terintimidasi karena mendengar sebelumnya ia tipe pemarah dengan gitaris yang mengikuti gayanya. Ternyata dia sangat ramah terhadap saya dan saya merasa senang mendapat kesempatan itu.”

Gary Moore merupakan mantan gitaris band besar yang juga sukses dengan karir solonya. Gary Moore meninggal pada usia 58 tahun. Sejak berkarir profesional hingga meninggal almarhum sudah membuat lebih kurang 19 album studio baik bersama Thin Lizzy atau solo karir. Walau kerap keluar dan kembali bersama Thin Lizzy, ketika bersama gitaris itu Thin Lizzy memiliki masa kejayaannya. (rits)

<b>Gitaris Gary Moore meninggal dunia</b>

Gitaris asal Irlandia Gary Moore meninggal dunia saat tengah menjalani liburan di Spanyol hari Minggu (6/2) waktu setempat.

Moore yang pernah memperkuat grup legendaris asal Irlandia,Thin Lizzy ini meninggal dalam usia 58 tahun. Manager Thin Lizzy, Adam Parsons mengatakan kepada BBC bahwa dia ditemukan meninggal pada hari Minggu pagi.

Moore sendiri bergabung dengan Thin Lizzy karena ajakan Phil Lynott untuk menggantikan gitaris Eric Bell. Dalam wawancara Bell menyatakan dia masih terkejut dengan kematian Moore. “Saya masih belum percaya dengan kabar tersebut,” kata Bell. “Dia terlihat bugar dan dia adalah pria yang sehat”. Seperti yang dikutip oleh media BBC.

Editor majalah musik Irlandia, Hot Press, Niall Stokes menggambarkan Moore sebagai seseorang yang jenius. Karya Moore banyak mendapat pujian dari para kritikus musik termasuk karyanya dalam album Thin Lizzy, Nightlife yang diluncurkan pada tahun 1974.

Keberadaannya bersama grup itu seolah memberi warna tersendiri. Selama bergabung dengan grup tersebut dia tidak pernah terbawa dalam format musik Thin Lizzy.
Pada tahun 1975 dia melepas album solo pertamanya, Grinding Stone dan penampilannya di album ini membuat dia dikenal sebagai musisi yang punya ciri dan talenta tersendiri yang luar biasa.

Meski demikian karir solo Moore juga terus berlanjut dan merajai tangga lagu Inggris salah satunya lewat singlenya Parisienne Walkways dan Out In The Fields. Selama karirnya dia dikenal sebagai gitaris yang tampil dalam berbagaigenre musik seperti blues, metal dan hard rock. (rits)

Java Jazz On The Move

Prior to the big event, Jakarta International Java Jazz Festival starts up the ‘fever’ by holding a series of pre-event, known as Java Jazz on the Move (“JJOTM”). Performing at Java Jazz on the Move are popular Indonesian and international artists (the international artist usually perform a couple of days prior to the D-day) who are usually successful in peaking jazz lovers in particular, and music lovers in general, to attend the main event. Java Jazz on the Move takes place at popular hang out venues such as shopping centers, malls, clubs, and on some occasions, universities. Java Jazz on the Move creates a fever that only the main event, Jakarta International Java Jazz Festival, can cure.
Schedule

Keep yourself updated for JJOTM 2011

Margo City Depok
Friday, 28 January 2011
18:00 - 23:00
RAN, ADE & BROTHERS, JW QUINTET, SLODYOZ, ESPOZA, GONIN, NANTA AND FRIENDS

Summarecon Mall Serpong Tangerang
Sunday, 30 January 2011
19:00 - 22:00
ELLO, RAISA

Puri Indah Mall
Saturday, 12 February 2011
19.00 - 21.00
The Jongens Jazz Quartet, Barry Likumahuwa Project (BLP)

@America
Sunday, 13 February & 1 March 2011
19:00 - 21:00
Bonita & the husBand, David Manuhutu, Fraya

Margo City Depok
Friday, 18 February 2011
18.00 - 23.00
Maliq & D’Essentials, David Manuhutu, 1st Impression, Captive, Jacket Potatoes, Margo Rising Stars, Circle of Fifth

Lapiazza
Sunday, 20 February 2011
19.00 - 21.00
Andien, Indonesia Youth Regeneration

Binus University
Friday, 25 February 2011
19.00 - 21.00
Soulvibe, Indra Aryadi

UNTAR, Grogol
Friday, 25 February 2011
13.00 - 16.00
DREW, Abdul & The Coffee Theory

FX
Saturday, 26 February 2011
19.00 - 21.00
DREW, Spero

Summarecon Mall Serpong
Sunday, 27 February 2011
19.00 - 23.00
DREW, Iwan Abdie, Hendrik Meurkens, KOSAKATA, Subway Heat

Black Cat
Monday, 28 February - 3 March 2011
20.00 - 22.00
Hendrik Meurkens, Kilimanjaro, Tony Monaco, Fareed Haque and MATHGAMES, Los Amigos
(rits)

Film Musikal Elton John

Elton John berencana untuk menggarap film musikal yang bercerita tentang kehidupannya.


Menggandeng Lee Hall untuk diajak kerja sama, Elton John menginginkan sebuah film musikal yang dapat menggambarkan secara realistis kehidupan John, baik itu kehidupan pribadinya maupun kariernya selama bermusik. Lee Hall adalah penulis film Billy Elliot yang dibintangi oleh Jamie Bell.

Penyanyi legendaris yang memiliki nama lengkap Sir Elton Hercules John tersebut juga menginginkan adanya sentuhan fantasi di dalam filmnya nanti, untuk kesan sensasional. Ia menginginkan warna filmnya kurang lebih seperti film Baz Lhurmann, Moulin Rouge. Kepada Chris Evans, penyiar radio BBC 2 seperti dikutip Rollingstone.com, Elton John mengatakan, “Film ini harus benar-benar menggambarkan pribadi saya dan hidup saya yang surreal. Contohnya ketika saya membeli sebuah klub bola,” seperti yang dikutip majalah Rolling STones Indonesia

Ia juga mengatakan bahwa Lee Hall telah menyelesaikan naskahnya. Sejauh ini persiapan produksi film hanya sampai di situ. Belum ada jadwal yang tetap kapan akan mulai syuting dan pemeran pun belum ditentukan hingga saat ini. (rits)