Seperti juga banyak orang, Solitaire//Addict mencari  kebahagiaan. Dan bagi mereka, salah satu kendaraannya adalah album  perdana.
Kisah kelompok musik ini berawal di medio 2008 ketika pemain bas  Thomas Ramdan mengajak anaknya, pemain drum Bounty Ramdan ke studio  untuk memainkan drum sesuka hatinya, berimprovisasi sesuai naluri. Dari  permainan drum Bounty itu, Thomas kemudian memasukkan bagian untuk  instrumen lain sehingga terbentuk jadi bagan lagu dan akhirnya tercipta  tiga lagu. Sesuatu yang iseng itu kemudian malah diteruskan menjadi yang  lebih serius: lagu-lagu lain pun tercipta, dan pemain musik lain  direkrut untuk kemudian membentuk kelompok musik. Selain ayah anak yang  menjaga tempo, akhirnya ada vokalis Aree, gitaris Putsky dan Vicky  Nitinegoro yang terakhir bergabung. Lantas, nama Solitaire//Addict  dipilih setelah mereka disindir karena terlalu sering memainkan  Solitaire di komputer studio. Tadinya, mereka ingin menamakan Ticket  To The Moon, tapi setelah merasa bahwa Solitaire//Addict terdengar  lebih bagus, Ticket To The Moon malah dijadikan judul album. Bulan,  bagi semua personel, adalah perlambang kebahagiaan, harapan atau  cita-cita. “Mudah-mudahan, dengan mendengarkan lagu  Solitaire//Addict seakan berada di bulan. Karena penasaran seperti apa  di sana, makanya ingin ke sana,” kata Vicky.“Album ini untuk  menggapai yang gue inginkan,” kata Putsky.“Ke bulan kan dulu  mustahil banget, nggak masuk akal dan persiapannya butuh waktu. Nah,  [begitu juga] band ini yang tadinya nggak mungkin jadi mungkin,” kata  Aree. “Ada yang bilang, harus kejar cita-cita setinggi langit,  padahal ada bulan di atas langit. Bagi gue, itu adalah harapan besar  banget. Nah, ini tiket hasil jerih payah gue maen musik, buat bisa ke  sana,” kata Bounty.“Kalau buat gue, ini sebuah ungkapan yang indah.  Bulan itu kan tidak terjangkau, hal-hal indah yang walaupun katanya pas  mendarat [berbentuk] jelek. Nah, keindahan itu yang akan  Solitaire//Addict capai,” kata Thomas. Tiket untuk menggapai  keinginan itu akhirnya berupa tujuh lagu di album perdana Ticket 2  The Moon. Thomas Ramdan menjadi produser sekaligus pemain bas untuk  album ini. Berbeda dengan album-album lain yang dia produseri,  penggarapan album ini lebih detail karena bertemu hampir setiap hari  dengan semua pemain musiknya. Walau begitu, bukan berarti album ini  lebih menonjolkan permainan bas Thomas karena dia mengatakan harus bisa  menempatkan dirinya. Ketika ditanya statusnya di band, Thomas yang di  sampul album wajahnya ikut dipajang tapi di urutan nama personel malah  tertulis featuring Thomas Ramdan, dia menjawab sambil tertawa,  “Gue produser yang bermain. Jalan saja dulu…jreeeng. Kalau manggungnya  banyak, gue di sini terus.”Tujuh lagu di album perdana mereka  menyuguhkan porsi yang hampir seimbang antara rock yang penuh distorsi  dengan pop yang manis tapi tak mendayu. Komposisi yang begini, kata  Thomas, sudah dipikirkan sebelumnya. Jika satu saat Solitaire//Addict  bisa menggelar pertunjukan tunggal, mereka berharap penonton bisa  merasakan perjalanan kelompok musik itu. Dan bagi Thomas, ada kenikmatan  tersendiri ketika akhirnya bisa bermain musik dengan sang anak. “Tanpa  gue sadari tiap kali manggung, tiap menengok, tetap saja itu anak gue.  Ada sesuatu, apalagi saat mainnya bagus. Ada sesuatu yang nggak bisa  dibayar dengan uang,” kata Thomas. “Tapi lebih enak juga kalau dibayar  sih.” Dia terbahak. Soal warna musik, Solitaire//Addict sadar  bahwa musik yang mereka mainkan tak seragam seperti banyak band pop yang  tayang di televisi. Tapi soal itu, mereka optimis bahwa mereka bisa  memberi warna lain. “Menurut pandangan gue, Indonesia banyak yang  stress, banyak sedih, sinetron menangis melulu. Kalau dikasih lagunya  begitu melulu, nggak akan maju. Coba kasih lagu yang up beat dan kasih  semangat. Makanya kalau dengar “Cepatlah Sayang”, bisa semangat,” kata  Bounty. Lagu dengan nafas rock yang kental itu adalah single kedua  mereka. Kaka Slank menyumbangkan suaranya di lagu itu. Tanpa banyak  pertimbangan, Kaka mengiyakan ajakan Thomas untuk mengisi beberapa  bagian di lagu itu. Sedangkan ketika ditanya soal keinginan  masuk televisi, mereka mengatakan meskipun keinginan itu ada, tapi  bukanlah yang utama. Bagi Vicky, kelompok musik yang ditulis di media  massa cetak hasilnya akan lebih lama ketimbang mereka yang masuk  televisi, karena tak bisa dilihat de-ngan mudah di masa yang akan  datang. “TV is not God,” kata Thomas sambil tertawa. “The  S.I.G.I.T. saja nggak masuk TV bisa tur ke luar negeri.”

Seperti juga banyak orang, Solitaire//Addict mencari kebahagiaan. Dan bagi mereka, salah satu kendaraannya adalah album perdana.


Kisah kelompok musik ini berawal di medio 2008 ketika pemain bas Thomas Ramdan mengajak anaknya, pemain drum Bounty Ramdan ke studio untuk memainkan drum sesuka hatinya, berimprovisasi sesuai naluri. Dari permainan drum Bounty itu, Thomas kemudian memasukkan bagian untuk instrumen lain sehingga terbentuk jadi bagan lagu dan akhirnya tercipta tiga lagu. Sesuatu yang iseng itu kemudian malah diteruskan menjadi yang lebih serius: lagu-lagu lain pun tercipta, dan pemain musik lain direkrut untuk kemudian membentuk kelompok musik. Selain ayah anak yang menjaga tempo, akhirnya ada vokalis Aree, gitaris Putsky dan Vicky Nitinegoro yang terakhir bergabung. Lantas, nama Solitaire//Addict dipilih setelah mereka disindir karena terlalu sering memainkan Solitaire di komputer studio. Tadinya, mereka ingin menamakan Ticket To The Moon, tapi setelah merasa bahwa Solitaire//Addict terdengar lebih bagus, Ticket To The Moon malah dijadikan judul album. Bulan, bagi semua personel, adalah perlambang kebahagiaan, harapan atau cita-cita.

“Mudah-mudahan, dengan mendengarkan lagu Solitaire//Addict seakan berada di bulan. Karena penasaran seperti apa di sana, makanya ingin ke sana,” kata Vicky.
“Album ini untuk menggapai yang gue inginkan,” kata Putsky.
“Ke bulan kan dulu mustahil banget, nggak masuk akal dan persiapannya butuh waktu. Nah, [begitu juga] band ini yang tadinya nggak mungkin jadi mungkin,” kata Aree.
“Ada yang bilang, harus kejar cita-cita setinggi langit, padahal ada bulan di atas langit. Bagi gue, itu adalah harapan besar banget. Nah, ini tiket hasil jerih payah gue maen musik, buat bisa ke sana,” kata Bounty.
“Kalau buat gue, ini sebuah ungkapan yang indah. Bulan itu kan tidak terjangkau, hal-hal indah yang walaupun katanya pas mendarat [berbentuk] jelek. Nah, keindahan itu yang akan Solitaire//Addict capai,” kata Thomas.

Tiket untuk menggapai keinginan itu akhirnya berupa tujuh lagu di album perdana Ticket 2 The Moon. Thomas Ramdan menjadi produser sekaligus pemain bas untuk album ini. Berbeda dengan album-album lain yang dia produseri, penggarapan album ini lebih detail karena bertemu hampir setiap hari dengan semua pemain musiknya. Walau begitu, bukan berarti album ini lebih menonjolkan permainan bas Thomas karena dia mengatakan harus bisa menempatkan dirinya. Ketika ditanya statusnya di band, Thomas yang di sampul album wajahnya ikut dipajang tapi di urutan nama personel malah tertulis featuring Thomas Ramdan, dia menjawab sambil tertawa, “Gue produser yang bermain. Jalan saja dulu…jreeeng. Kalau manggungnya banyak, gue di sini terus.”

Tujuh lagu di album perdana mereka menyuguhkan porsi yang hampir seimbang antara rock yang penuh distorsi dengan pop yang manis tapi tak mendayu. Komposisi yang begini, kata Thomas, sudah dipikirkan sebelumnya. Jika satu saat Solitaire//Addict bisa menggelar pertunjukan tunggal, mereka berharap penonton bisa merasakan perjalanan kelompok musik itu. Dan bagi Thomas, ada kenikmatan tersendiri ketika akhirnya bisa bermain musik dengan sang anak. “Tanpa gue sadari tiap kali manggung, tiap menengok, tetap saja itu anak gue. Ada sesuatu, apalagi saat mainnya bagus. Ada sesuatu yang nggak bisa dibayar dengan uang,” kata Thomas. “Tapi lebih enak juga kalau dibayar sih.” Dia terbahak.

Soal warna musik, Solitaire//Addict sadar bahwa musik yang mereka mainkan tak seragam seperti banyak band pop yang tayang di televisi. Tapi soal itu, mereka optimis bahwa mereka bisa memberi warna lain.
“Menurut pandangan gue, Indonesia banyak yang stress, banyak sedih, sinetron menangis melulu. Kalau dikasih lagunya begitu melulu, nggak akan maju. Coba kasih lagu yang up beat dan kasih semangat. Makanya kalau dengar “Cepatlah Sayang”, bisa semangat,” kata Bounty. Lagu dengan nafas rock yang kental itu adalah single kedua mereka. Kaka Slank menyumbangkan suaranya di lagu itu. Tanpa banyak pertimbangan, Kaka mengiyakan ajakan Thomas untuk mengisi beberapa bagian di lagu itu.

Sedangkan ketika ditanya soal keinginan masuk televisi, mereka mengatakan meskipun keinginan itu ada, tapi bukanlah yang utama. Bagi Vicky, kelompok musik yang ditulis di media massa cetak hasilnya akan lebih lama ketimbang mereka yang masuk televisi, karena tak bisa dilihat de-ngan mudah di masa yang akan datang.
TV is not God,” kata Thomas sambil tertawa. “The S.I.G.I.T. saja nggak masuk TV bisa tur ke luar negeri.”